HIJRAH KONTEKSTUAL

HIJRAH KONTEKSTUAL
Dalam rentang waktu yang berdekatan, kita menjumpai pergantian tahun dua kali, yaitu Tahun Baru Hijriyah 1432 yang jatuh pada tanggal 7 Desember dan Tahun Baru Masehi 2011 pada 1 Januari. Pergantian tahun memberikan makna yang beragam bagi setiap orang. Akan tetapi, yang pasti bahwa bergantinya tahun menunjukkan “bertambahnya” usia seseorang, akan tetapi hakikatnya umurnya “berkurang” atau dengan kata lain jatah hidupnya di dunia semakin berkurang.
Oleh karena itu, dengan hakikat umur seperti itu, seharusnyalah kalau pergantian tahun dimanfaatkan untuk mengevaluasi (muhasabah) diri, introspeksi atas aktivitas ibadah dan keimanannya pada tahun yang lalu, dan menyiapkan upaya perbaikan dan peningkatan kualitas ibadah, keimanan serta ketaqwaannya untuk tahun mendatang. Allah (QS 59: 18) memerintahkan agar setiap diri memperhatikan apa yang telah disiapkan untuk hari esok (akhirat). Rasulullah SAW menyatakan pada hari kiamat, setiap manusia ditanya empat perkara: umurnya untuk apa dihabiskan, masa mudanya untuk apa digunakan, hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dihabiskan, dan ilmunya untuk apa dimanfaatkan. (HR Tirmidzi). Khalifah Umar bin Khathab menyatakan, ‘Hitunglah diri kalian sebelum kalian dihitung. Timbanglah amal-amal kalian sebelum ditimbang”.
Bagi umat Islam, pergantian tahun Hijriyah yang ditandai dengan kehadiran bulan Muharram memberikan makna tersendiri yang spesifik, karena merupakan momentum penting bersejarah yaitu peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dan sahabatnya dari Makkah ke Madinah yang menjadi titik cerah perkembangan spektakuler dakwah Islam. Peristiwa tersebut kemudian ditetapkan oleh khalifah Umar bin Khattab permulaan kalender Hijriyah.
Hijrah secara etimologis artinya berpindah. Secara terminologis, hijrah mengandung dua makna hijrah makani dan hijrah maknawi. Hijrah makani artinya hijrah secara fisik berpindah dari suatu tempat yang kurang baik menuju yang lebih baik. Hijrah maknawi artinya berpindah dari nilai yang kurang baik menuju nilai yang lebih baik, dari kebatilan menuju kebenaran, dari kekufuran menuju keislaman. Ringkasnya hijrah kepada tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Dua makna hijrah tersebut terekam jelas dalam hijrah Rasulullah SAW dan para sahabatnya ke Madinah. Secara makani jelas mereka berjalan dari Makkah ke Madinah menempuh padang pasir sejauh kurang lebih 450 km. Secara maknawi juga jelas mereka hijrah demi terjaganya misi Islam.
Dalam pengertian ini, semangat hijrah yang patut diimplementasikan sekarang ini, bukan lagi dalam pengertian fisik, tetapi hijrah secara kontekstual dengan meninggalkan segala peradaban atau nilai-nilai yang tidak baik dan tidak urgen menuju peradaban yang lebih baik yang diridhai Allah dan dapat diterima umat manusia pada umumnya, hijrah dari nilai budaya yang buruk menuju nilai budaya yang Islami, meningkatkan spritualitas dan kesadaran keagamaan menjadi lebih baik. Hal tersebut menjadi keniscayaan umat Islam Indonesia, terutama ketika bangsa ini dihadapkan dengan berbagai musibah yang sepatutnya direnungkan sebagai momentum menguji kualitas keimanan dan keberislamannya dan patut direnungi untuk diambil hikmahnya. Untuk itu, upaya mengkontekstualkan makna hijrah dapat diartikulasikan dalam kehidupan personal, keluarga, sosial kemasyarakatan dan bernegara secara sinergis.
Secara kontekstual, hal-hal yang harus dilakukan ketika memasuki tahun baru Hijriyah adalah sebagai berikut: 1) Hidupkan semangat baru untuk memulai tahun baru ini dengan nilai-nilai mulia yang memancar dari relung keimanan yang sangat dalam, yaitu keimanan terhadap kebenaran risalah yang dibawa Rasulullah SAW. 2) Ikutilah jejak perjuangan dan pengorbanan Rasulullah beserta sahabat-sahabatnya, dimana dari cerminan hijrah yang mereka lakukan, sungguh terlihat betapa mereka tidak lagi mendahulukan dunia dalam langkah hidupnya, melainkan malah mengorbankan dunia untuk kepentingan akhirat. 3) Bawalah spirit hijrah ini ke segala lapangan kehidupan, dalam arti pindah dari masa lalu yang kurang baik, ke hari esok yang penuh dengan ketaatan kepada Allah. Tidak hanya dalam segi ibadah melainkan dalam segala lapangan kehidupan. Termasuk berhijrah dari kebiasaan ngrasani (ghibah), menebarkan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, berburuk sangka, iri hati, membuat peta comply (namimah), bertindak zalim menuju kepada akhlak yang baik dan bertindak adil dalam berkeluarga, bermasyarakat, berbisnis dan bernegara.
Di samping itu, pergantian tahun baru pada hakikatnya juga mengingatkan manusia tentang pentingnya waktu. Siapa yang mengetahui arti waktu berarti mengetahui arti kehidupan. Sebab, waktu adalah kehidupan itu sendiri. Dengan begitu, orang-orang yang selalu menyia-nyiakan waktu dan umurnya adalah orang yang tidak memahami arti hidup. Yusuf Qardhawi menjelaskan tentang tiga ciri waktu, yaitu: 1) waktu itu cepat berlalunya, 2) waktu yang berlalu tidak akan mungkin kembali lagi, 3) waktu itu adalah harta yang paling mahal bagi seorang Muslim. Oleh karena itu, marilah pada kesempatan pergantian tahun ini kita mengevaluasi diri, bermuhasabah, untuk menjadi insan yang hari ini selalu lebih baik dari kemarin, esok lebih baik dari hari ini. Kuncinya adalah start with yourself, start early, start small, start now (John C. Maxweel, Developing the Leader, Within You). Semoga Allah mempermudahkan kita memperbaiki kualitas diri, keluarga, institusi, dan bangsa. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: